Minggu, 14 Desember 2014

Kurikulum Pendidikan Periode 1945-1975

Kurikulum periode 1945-1975 diwarnai semangat kemerdekaan dan pembangunan. (Foto: dok. Okezone)

Kurikulum Pendidikan Periode 1945-1975

JAKARTA - Perubahan zaman menuntut perubahan pada dunia pendidikan Indonesia. Tujuannya, agar siswa kita tidak kalah bersaing.
Untuk mendukung hal itu, pemerintah pun melakukan perubahan kurikulum pendidikan secara berkala. Sejak merdeka pada 1945, tercatat telah terjadi 10 kali perubahan kurikulum pendidikan nasional. Berikut penjelasan lima kurikulum yang dipakai pada periode 1945-1975 seperti dikutip dari laman Ditjen Dikti, Kemendikbud, Senin (15/12/2014):

1. Kurikulum 1947
Kurikulum pertama ini disebut Rencana Pelajaran 1947 atau leer plan. Kurikulum ini kental dengan nuansa politis. Ia merupakan upaya mengubah orientasi pendidikan yang berorientasi kolonialis Belanda menjadi berorientasi kepentingan nasional berasaskan Pancasila. Karena pergolakan revolusi, Rencana Pelajaran 1947 pun baru dapat diterapkan pada 1950 sehingga ia kerap disebut sebagai kurikulum 1950.
Susunannya sangat sederhana, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Kurikulum ini mengedepankan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani.
Ada 16 mata pelajaran di tingkat Sekolah Rakyat dengan pelajaran tambahan bahasa daerah di Jawa, Sunda dan Madura. Metode pengajaran pada kurikulum ini ditekankan pada konsep guru mengajar dan murid mempelajari.

2. Kurikulum 1952
Ini merupakan pengembangan dari Rencana Pelajaran 1947. Kurikulum yang dikenal sebagai Rencana Pelajaran Terurai 1952 ini merinci setiap mata pelajaran dan menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Ada lima hal pokok dalam kurikulum ini yaitu pendidikan pikiran harus dikurangi, isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian, pendidikan watak, pendidikan jasmani dan kewarganegaraan masyarakat.

3. Kurikulum 1964
Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964 lahir di penghujung era Presiden Soekarno. Kurikulum ini memfokuskan pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana) peserta didik.
Lima hal pokok dalam kurikulum 1964 adalah manusia Indonesia berjiwa Pancasila, man power, kepribadian kebudayaan nasional yang luhur, ilmu dan teknologi yang tinggi dan pergerakan rakyat dan revolusi. Secara umum, mata pelajaran juga diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi yaitu: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pada tingkatan pendidikan dasar, penekanannya lebih kepada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968
Tujuan pendidikan dalam Kurikulum 1968 adalah menekankan upaya membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani; serta mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

5. Kurikulum 1975
Kurikulum ini adalah berorientasi pada tujuan dan menganut pendekatan integratif. Artinya, setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Kurikulum 1975 juga menekankan efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
Tidak heran, kelahiran Kurikulum 1975 dipengaruhi konsep management by objective (MBO) yang saat itu terkenal. Kurikulum 1975 juga dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respons (rangsang-jawab) dan latihan (drill).
Pelaksanaannya menggunakan pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem ini senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
Setiap satuan pelajaran dirinci lagi menjadi petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kritik atas kurikulum ini kebanyakan hadir karena guru jadi lebih sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar